Sabtu, 18 Desember 2010

TRAGEDI

TRAGEDI POSO BERDARAH

FroFoto24a_1m: xxx
Saksi Poso Berbicara Di Jakarta
(laporan Syarifuddin Ambalawi)


Hanya
selang 2 hari setelah sweeping Brimob terhadap 16 muslim Poso yang
termasuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) yang menyebabkan tewasnya
belasan penduduk sipil muslim Poso 22 Jan 2007 lalu, Ust. Ahmad
kemudian diutus oleh Ust. Adnan Arsal, tokoh agama Islam Poso setempat,
untuk ke Jakarta melaporkan fakta sebenarnya. Kamis, 25 Jan 2007, Ust.
Ahmad didampingi beberapa tokoh Forum Umat Islam, termasuk Ust. Abu
Bakar Ba’asyir dari Majelis Mujahidin Indonesia dan Habib Rizieq dari
Front Pembela Islam, mendatangi Komnas HAM untuk menyampaikan fakta.

Rekaman Video Yang Menjijikkan
Rekaman
video kekejaman ‘Kristen Radikal’ pada masa sebelum kesepakatan Malino
dipersaksikan. Tampak belasan mayat anak kecil Muslim sedang
dikumpulkan, diantaranya ada anak balita yang 1/3 tempurung kepala
bagian atasnya lepas terbacok rata (kemudian disambungkan lagi), usus
terburai dan anak kecil lainnya yang punggung atau bahunya terbelah
lebar dan dalam bekas bacokan. Disisi lain tampak pula mayat-mayat
orang dewasa termasuk para wanita dewasa. Mayat seorang ibu terlihat
pergelangan tangannya putus rata dibacok dengan senjata yang sangat
tajam yang menyebabkan bekas bacokannya sangat ‘rata’.
Suatu
rekaman video penutup akhirnya diputarkan yang menyebabkan teriakan
ledakan marah para pemuda ormas Islam yang ikut hadir disertai teriakan
histeris para wartawan yang ikut menyaksikan. Dalam rekaman ini tampak
seorang pemuda muslim Poso sedang dikeroyok oleh sekelompok pemuda
Kristen Radikal (istilah yang dikemukakan Habib Rizieq untuk
membedakannya dengan umat Kristen umum). Sebuah golok telah menyabet
kulit kepala pemuda tersebut hingga terkelupas selebar dan setebal kue
serabi, sehingga terlihat daging berwarna putih dan kelupasan kulit
kepala yang masih menggantung di kepalanya
terumbai-umbai ketika ia
bergerak kesana kemari. Pemuda muslim ini terlihat masih bisa berdiri
dan teriak-teriak minta tolong pada polisi bersenjata lengkap yang ada
disekitarnya namun tak berdaya atau tak berani atau tak mau bertindak
tegas. Beberapa pemuda Kristen Radikal terlihat masih terus memukulnya
dengan kayu, sementara seorang pemuda lainnya menombak dada kiri pemuda
malang tersebut dengan sebilah bambu runcing. Pemuda tersebut melepas
tombak bambu itu dengan tangannya, lalu dengan kepala yang berlumuran
darah, kulit kepala terkelupas, baju penuh darah, ia berjalan terhuyung
menuju mobil polisi
yang ada 3 meter disampingnya. Sesaat terlihat
kelupasan kulit kepala pemuda tersebut masih melambai tergantung diatas
telinganya akibat gerakan tubuhnya. Seorang polisi yang ada dalam mobil
tersebut mengusirnya ketika pemuda malang itu minta perlindungan,
mungkin polisi itu jijik mempersilahkannya masuk ke mobil atau bisa
juga ia takut melindungi pemuda itu sementara puluhan pemuda Kristen
Radikal sedang memukulinya. Walau akhirnya pemuda malang tersebut bisa
diselamatkan ke sebuah mobil patroli bak terbuka polisi, namun dari
sekitar 20 ? 30 polisi yang ada di lokasi hanya 1-2 orang yang terlihat
berusaha melerai, namun dengan cara seadanya.
Andi Baso, tokoh
penandatangan Perjanjian Malino, yang ikut hadir menjelaskan bahwa itu
masih belum apa-apa dibanding laporan yang ia terima dimana beberapa
wanita dewasa di suatu desa di Poso diperkosa para Kristen Radikal dan
beberapa diantaranya kemaluannya dimasukkan botol dengan paksa,
ditendang kemaluannya,dan lalu sebagian mati ditempat. Kabar lain
mengatakan Tibo pernah menyembelih seorang anak kecil dan meminum
darahnya yang sedang mengalir dari lehernya langsung ke mulutnya.
Kecemburuan
Sosial Sebagai Sumbu Perang Antar Umat Beragama Poso Menurut Andi Baso,
pemicu awal perang Poso adalah kecemburuan sosial dari umat Kristen
terhadap kemajuan umat Islam di Poso. Warga Kristen Poso sudah biasa
menenggak minuman keras sehingga bangun telat, ke ladang telat, kerja
telat, akhirnya ekonomi memburuk. Sedang warga muslim, ditambah
pengaruh transmigran muslim dari Jawa, yang selalu bangun subuh untuk
sholat subuh, lalu berangkat kerja sejak subuh, lantas lebih cepat
maju. Akibat kemajuan ekonomi umat Islam, lantas lebih banyak mesjid
dibangun, lalu uang lebih banyak tersedia untuk beli pengeras suara.
Kemajuan rumah ibadah dan pengeras suara ini merupakan friksi awal yang
memulai kecemburuan sosial. Secara logika dalam situasi seperti
ini
provokasi dari luar lebih mudah meledakkan umat Kristen, sebaliknya
tidak ada artinya provokasi bagi umat Islam yang tidak memiliki
kecemburuan sosial.
Perjanjian Malino
Ditandatanganinya
Perjanjian Malino adalah langkah akhir pihak Kristen Radikal untuk
‘menyerah’ akibat kemenangan umat Islam yang dipimpin oleh sebagian
diantaranya adalah para 16 DPO muslim yang kini dicari-cari polisi.
Kalau saja Kristen Radikal tidak kalah rasanya tidak akan mau mereka
menandatangani perjanjian Malino ini. Jadi bagi mereka Perjanjian
Malino menjadi semacam alat untuk melindungi mereka dari kehancuran
yang lebih besar lagi dalam perang antar umat beragama ini. Hal ini
terbukti bahwa Perjanjian Malino dijadikan alat untuk mengulur waktu
bagi mereka untuk menyusun kekuatan menyerang balik. Dan serangan balik
ini benar-benar akhirnya terjadi.
Pasca Hukuman Mati Tibo Cs :
Berubah Menjadi Perang Dengan Aparat Brimob & TNI Kekejaman umat
Kristen Radikal yang antara lain dipimpin oleh Tibo Cs telah menewaskan
lebih dari 2000 umat Islam Poso. Perjanjian Malino ditandatangani, dan
Tibo Cs dihukum mati. Umat Islam lega, tapi hanya sebentar. Karena
pembantaian masih terjadi. Kesepakatan Malino dinodai, ketika senjata
diserahkan ke kepolisian, umat Islam pun diserang lagi. Umat Islampun
membalas.
Bom meledak, pelajar dibunuh, dan sebagainya.
Kepolisian kemudian menetapkan 16 Daftar Pencarian Orang (DPO) muslim
Poso yang dianggap sebagai penyebab. Penetapan 16 DPO inilah yang
lantas merubah peta perang yang tadinya antara Kristen Radikal dengan
umat Islam Poso menjadi antara Aparat Kepolisian & TNI dengan umat
Islam Poso. Kristen Radikal pun undur sejenak, diperkirakan mereka
menyimpan senjatanya sementara.
Umat Islam Poso berjanji akan
menyerahkan 16 DPO muslim asalkan 19 tokoh Kristen Radikal (termasuk
Pendeta Damanik) yang disebutkan Tibo Cs sebagai dalang penggerak
Kristen Radikal agar juga diperiksa. Ini prinsip keadilan. Syarat lain
yang mereka kemukakan adalah agar DPO diperiksa sebagai tersangka bukan
sebagai pesakitan. Sangat sulit bagi keluarga DPO dan warga muslim Poso
untuk menyerahkan 16 DPO ini karena kenyataannya beberapa saudara
kandung DPO yang diciduk saja disiksa lalu mati dibunuh (namun polisi
mengatakannya mati karena sakit). Kalau saudaranya si DPO saja disiksa
dan dibunuh, bagaimana pula dengan DPO nya sendiri. Ketika berita di
media massa melaporkan bahwa belasan muslim penyerang Brimob berhasil
ditembak polisi, sungguh ini berita bohong.
Menurut kesaksian
mereka, yang terbunuh ada yang wanita dan anak-anak. Bahkanketika
dikatakan ada pelindung DPO yang terbunuh, sebenarnya mereka sudah
diciduk beberapa hari sebelumnya, kemungkinan dibawa kesana untuk
dibunuh sehingga solah-olah terbunuh saat baku tembak. Di stasiun TV
kita lihat minggu lalu sekitar 8 orang penduduk sipil yang
melapor
karena disiksa oleh Kepolisian karena tinggal di wilayah DPO. Ustadz
Ahmad sendiri menyaksikan seorang temannya ditembaki polisi, dan ketika
ia menanyakan alasannya, polisi (Brimob) mengatakan alasannya karena ia
memukul-mukul tiang listrik. Apakah memukul tiang listrik suatu
tindakan kejahatan ? Ketika dikejar terus dengan protes, pak Polisi
hanya bilang ini keputusan politik, bukan keputusan kami. Lha.. Ini
cermin tindakan berlebihan Brimob dan TNI terhadap umat Islam. Kenapa
tindakan tegas tidak mereka dilakukan ketika pemuda muslim Poso
dikeroyok, ditombak dan dibacok di depan polisi hingga kulit kepalanya
terkelupas terumbai-umbai.
Kasus Poso Tidak Boleh Diputihkan
Habib
Rizieq yang hadir di Komnas HAM mengatakan bahwa ia menolak keras sikap
Wapres Jusuf Kalla yang hanya menindak tegas setiap pelaku kerusuhan
pasca Perjajian Malino. Sikap ini berarti mengganggap bahwa kasus
sebelum Malino diputihkan alias tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tidak
ada kasus kriminal yang boleh diputihkan, katanya. Perhatikan, bahwa
masa sebelum Perjanjian Malino adalah masa pembantaian 2000 umat Islam
oleh Kristen Radikal dibawah kendali 19 orang yang disebutkan Tibo Cs.
Bagaimana kematian 2000 umat Islam Poso dianggap tidak pernah ada.
Sedangkan masa Pasca Malino adalah masa terjadinya kasus pembalasan
umat Islam (16 DPO) terhadap Kristen Radikal akibat pelanggaran mereka
terhadap Perjanjian Malino (penyerangan perkampungan muslim).
Ketika
Habib Rizieq diminta pemerintah menengahi kasus Poso dan 16 DPO ini, ia
mendengar dari seorang ibu yang anaknya termasuk seorang DPO, bahwa 16
DPO siap menyerahkan diri asal dengan syarat 19 daftar nama Kristen
Radikal yang disebut Tibo Cs juga diproses, syarat kedua, ada jaminan
tidak disiksa. Ibu itu berkala lagi, baginya lebih senang menerima
mayat anaknya mati terbunuh di medan perang dari pada menyaksikan
anaknya kembali dari Kepolisian dalam keadaan cacat akibat disiksa.
Ingat, DPO adalah tersangka, artinya belum tentu mereka bersalah,
karena masih harus melalui proses pengadilan untuk membuktikannya.
Media
Massa pun Ikut Tidak Adil Ketika belasan umat Islam Poso tewas dalam
serangan Brimob ke perkampungan muslim untuk mencari para DPO,
sementara itu hanya 1 orang anggota Brimob yang tewas, maka hampir
semua media massa memberitakan kesedihan yang meliputi keluarga sang
Brimob. Bahkan berita dukacita kematian anggota Brimob ini dibahas
tuntas hingga ke kehidupan pribadinya selama ini dan kemudian
diulang-ulang dalam setiap pemberitaan berikutnya dalam durasi yang
panjang.
Seandainya penderitaan, penyiksaan dan kekejaman
terhadap umat Islam Poso dapat ditayangkan seluruhnya secara lengkap di
TV, maka saya yakin tak ada seorangpun yang tertarik lagi menonton
infotainment. Sementara itu ketika rekaman video yang disebut diatas
ditayangkan di Komnas HAM, puluhan wartawan yang hadir berteriak
histeris atau meringis jijik. Namun malamnya atau sorenya, ketika
kunjungan ke Komnas HAM diberitakan, isinya hanya menyatakan bahwa
’sekelompok umat Islam yang menamakan dirinya Forum Umat Islam
mendatangi Komnas Ham untuk meneliti kasus Poso’ . Lantas wawancara
yang disiarkanpun adalah wawancara terhadap salah satu wakil Komnas
HAM, yang komentarnya akan mempelajari kasus ini karena mereka harus
menerima informasi dari berbagai sumber. Ketika menampilkan orang yang
sedang berdemopun hanya ditampilkan 4 ? 5 orang yang berseragam
hitam-hitam, padahal peserta demo hari itu ada sekitar 150 orang dari
FPI, HT, Bulan Bintang dan MMI. Sungguh mereka tidak menampilkan
pernyataan keras Ust. Abu Bakar Ba’asyir yang mengatakan siap
menyerukan jihad umum kepada seluruh umat Islam Indonesia bila
penyelesaian Poso tidak adil. Atau pernyataan Habib Rizieq yang
menuntut Komnas HAM mengajukan Yufus Kalla dan mantan kepala BIN,
Hendropriyono, agar diperiksa karena melindungi kejahatan terhadap umat
Islam.
Apalagi harian Kompas, yang memberitakan tokoh Muslim
Poso, Ust. Adnan Arsal, menganjurkan 16 DPO menyerahkan diri. Tapi
Kompas tidak ada atau tidak lengkap menuliskan syarat-syarat yang
dikemukakan Ust. Adnan Arsal agar DPO mau menyerahkan diri.
Jusuf Kalla dan Logika Peran Tokoh Islam
Perhatikan
logika ini dengan baik ! Masalah Poso dalam kacamata Islam harus
diselesaikan dengan pendekatan Nahi Munkar (memberantas kejahatan),
bukan sekedar Amar Ma’ruf (mengajak berbuat baik). Sabtu malam, 27
Januari 2007, Wapres Yusuf Kalla mengundang tokoh Islam untuk
mendiskusikan penyelesaian Poso.
Setelah selama ini pak Yusuf
ini mendengar laporan Poso dari sisa-sisa informasi dari Ketua BIN yang
lama, Hendropriyono (yang pernah tersangkut kasus pembantaian Muslim
Lampung), maka rupanya pak Yusuf ini mencoba mencari solusi dialog
dengan tokoh Islam. Ia sendiri yang mendefinisikan siapa tokoh Islam
yang pantas menyelesaikan masalah semacam ini.
Secara logika,
maka seharusnya yang diundang adalah ahli nahi munkar atau tokoh ormas
Islam yang bergerak dibidang nahi munkar, antara lain FPI, MMI, FUI,dan
lain-lain. Lucunya yang diundang adalah tokoh organisasi amar makruf
dan organisasi politik Islam, seperti NU, Muhammadiyah, PKS, dll.
Bahkan diundang juga tokoh ‘intelektual’ muslim semacam Komarudin
Hidayat dan Syafi’i Maarif. Kalaupun Ja’far Umar Thalib (mantan
Panglima Laskar Jihad) diundang dalam acara ini, tentulah dengan
pertimbangan bahwa ia seorang mantan organisasi perjuangan nahi munkar
yang kabarnya kini sudah ‘menyesali’ perbuatannya dan kini fokus ke
amar makruf.
Bagaimana suatu masalah Nahi Munkar diselesaikan
oleh tokoh-tokoh agama yang spesialis Amr Makruf ? Katakanlah mereka
cukup memahami masalah Nahi Munkar,tapi toh sebatas wacana atau paling
tinggi dalam level di mimbar mesjid, bukan dalam pergerakan konkret di
lapangan. Adalah wajar bila saksi mata atau intel Islam di Poso selama
ini melaporkan kekejaman musuh Islam kepada tokoh-tokoh ormas Nahi
Munkar semacam Habib Rizieq atau Ust Abubakar. Toh tidak mungkinlah
mereka melaporkan hal semacam ini kepada partai PKS atau Gusdur atau Aa
Gym atau Syafii Maarif atau Komarudin Hidayat. Ini sama juga
diibaratkan seorang Presiden meminta pendapat Menteri Keuangan untuk
mencari jalan keluar terhadap masalah keamanan atau masalah suatu
peperangan. Pastilah sang Menteri Keuangan melihatnya dari kacamata
budget dan laba rugi.
Detik ini
Detik ini, ketika Anda sedang
membaca tulisan ini. Bisa saja Pak Yusuf Kalla lagi istirahat di tempat
tidurnya yang empuk. Bisa saja Hendropriyono lagi karaoke dengan mantan
Jenderal lainnya. Bisa saja sementara itu Anda sedang duduk di kafe
sambil membaca tulisan ini ditemani secangkir kopi. Bisa saja saat ini
seorang warga muslim Poso sedang diperiksa oleh Brimob bagian
interogasi lantas dijepit keras kedua kakinya dengan dua potong kayu
bergerigi yang dirantai agar mengaku atau mengarang cerita palsu. Bisa
saja lubang gigi geraham seorang anggota keluarga DPO detik ini sedang
ditusuk dengan benda runcing agar mengaku dimana menyembunyikan DPOnya.
Atau kaki seorang muslim Poso baru saja dipatahkan dengan benda tumpul
karena tidak mau bekerjasama dengan Brimob.
Bagi yang prihatin
atau berpihak pada umat Islam Poso, minimal anda bisa mendoakan mereka
saat ini juga. Bagi yang tidak peduli atau yang membenci umat Islam
Poso, timbul rasa penasaran saya untuk melihat bagaimana kelak Allah
akan memperlakukan mereka di akhirat. (Syarifuddin Ambalawi)
SILAHKAN LIHAT JUGA DI:http://tambang.blogspot.com/2007/02/doa-suciku-di-langit-poso.html
LIHAT FOTO-FOTO KORBAN KEBIADABAN KAUM KUFAR KRISTEN POSO:http://www.geocities.com/tragediposo/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar